Tom Clancy: EXECUTIVE ORDERS (Perintah Eksekutif)


Pengarang: Tom Clancy

Ukuran    : 15 x 23 cm

Tebal        : 1144 halaman

Penerbit   : PT Gramedia Pustaka Utama

 

Secara umum buku dengan sampul bendera strips and stars ini berlatar belakang pemerintahan Amerika Serikat dengan power yang dimiliki negara tersebut. Kisah yang ditawarkan berawal dari kelumpuhan pemerintahan, karena tindakan kamikaze dengan menggunakan pesawat oleh salah satu warga Jepang di Capitol Building. Hal ini mengakibatkan Presiden, sebagian besar anggota kongres dan kabinet tewas. Wakil presiden yang baru saja dilantik dan diambil sumpahnya, sekarang menjadi Presiden Amerika Serikat. Dia adalah John Patrick Ryan.

John Patrick Ryan merupakan tokoh rekaan Tom Clancy. Ryan, mengawali kinerjanya sebagai Presiden dengan memulihkan bagian-bagian yang ‘kosong’ dalam pemerintahannya dan pengusutan terhadap tindakan di Capitol Building. Tindakan ini mengaktifkan badan-badan intelejen negara dan kesatuan keamanan negara.

Lebih lanjut, Amerika Serikat dikejutkan dengan munculnya secara tiba-tiba penyakit Ebola Zaire di dua puluh negara bagian yang memakan banyak korban. Khawatir terhadap semakin meningkatnya jumlah korban, dengan mempertimbangkan saran dari pakar kesehatan yang ada (Cathy, istri Ryan, adalah dokter ahli bedah mata, salah satu yang terbaik di bidangnya. Bekerja di John Hopkins Hospital) sehingga dikeluarkanlah perintah eksekutif kepada seluruh penduduk AS, sekalipun melanggar konstitusi. Ternyata ada dalang dari munculnya Ebola di AS sebagai tindakan Perang Biologis. Dan perang pun tak terelakkan.

Buku ini menarik untuk dibaca. Penyajian pengarang dalam kata-kata yang terasa alami sehingga membuat pembaca bisa membayangkan kondisi-kodisi fisik yang terjadi, pemikiran-pemikiran dan sudut pandang yang berbeda hingga pemecahan kasus. Akan sering dijumpai nilai-nilai humanisme, agamis dan kepentingan politik. Bagian yang paling menarik perhatian saya adalah pengungkapan pengarang terhadap masalah kesehatan dan sejumlah penelitian terhadap beberapa penyakit berpotensi, seperti leukimia, limfoma, AIDS, dan Ebola.

Eat, Pray, Love-Makan, Doa, Cinta


Judul Buku: Eat, Pray, Love

Penulis: Elizabeth Gilbert

Penerbit : Abdi Tandur

Saya baru saja menyelesaikan membaca buku ini. Buku ini mengisahkan pengalaman perjalanan dari penulis sendiri yang berasal dari New York dengan latar belakang penulis buku dan majalah. Buku ini dibagi menjadi tiga bagian, masing-masing berdasarkan negara yang dikunjungi, Liz-panggilan akrab Elizabeth dalam buku ini, mengadakan pejalanan ke tiga negara yaitu Italia, India, dan Indonesia. Dalam buku ini mengungkapkan sejarah singkat dari terbentuknya negara tersebut dan budaya-budaya yang dianut masyarakat setempat.

Italia. Berawal dari keinginan untuk belajar bahasa ini sampai menemukan tempat-tempat makan yang enak di sekitar kota Itali (EAT). Digambarkan juga keindahan kota Itali dengan patung-patung dan air mancur yang ada di sana. Pada bagian ini, terus terang saya kurang mengerti karena beberapa bagian cerita terkesan “meloncat-loncat” sehingga membuat bingung, namun terdapat segi kocak dalam percakapannya-khususnya dengan Luca saat mereka makan ‘usus’ (Hei, tidak cuma di Itali, di Indonesia pun banyak yang seperti itu!).

India. Ketenangan, kedamaian, dan spiritualitas mungkin ini yang menjadi inti dari perjalanan ke negara ini. Pelepasan beban pikiran, perasaan, goncangan, ketakutan dan bayang-bayang masa lalu. Di sini penulis belajar dari seorang guru mengenai pengenalan akan Tuhan-spiritualitas (PRAY) melalui Yoga. Ada yang menarik perhatian saya dalam seri ini:

‘Ego tidak melayanimu. Tugas ego bukan untuk malayanimu. Tugasnya hanyalah tetap memiliki kekuasaan. Dan sekarang ini, egomu sangat ketakutan karena kekuasaannya akan diperkecil. Teruskan dengan jalan spirituil ini sayang, dan hari-hari dari anak nakal itu (ego) hanya tinggal menunggu hitungan waktu. Tidak lama lagi egomu tidak akan bekerja lagi, dan hatimu akan mulai membuat keputusan. Jadi egomu berjuang untuk hidupnya, bermain dengan jiwamu, mencoba untuk menegaskan kekuasaannya, mencoba untuk mengatur hidupmu dan menjauhkan kamu dari yang lain. Jangan dengarkan egomu.’

Seperti hal ini kau tidak bisa menyuruh diam hatimu, tapi bisa menenangkannya. Caranya? Cinta dari Tuhan.

Indonesia. Bukan Indonesia secara keseluruhan, tapi salah satu Pulaunya. Bali. Em, mungkin juga Pulau Gili Meno (di ujung Pantai Lombok) bisa di masukkan di sini. Pada bagian ini pengarang ingin memberi tahu mengenai keseimbangan. Menyeimbangkan apa yang telah di dapatkan di Itali dan India, keduanya bertolak belakang seperti dunia dan surga-kalau bisa dikatakan seperti itu. Akhirnya di Bali penulis menemukan cintanya (LOVE).

Buku ini telah dibuat menjadi suatu film dengan judul yang sama Eat Pray Love dibintangi oleh Julia Roberts.

Kesimpulan dari saya adalah menemukan makna dari keseimbangan hidup bisa kita capai karena hidup itu anugrah dan dijalankan dengan sebaik yang kita bisa lakukan. Kita hanya perlu untuk bertahan dan mencari jalan keluar. Bila tidak bisa seorang diri, carilah bantuan, dari orang yang tepat.