Mekanika Tubuh (Body Mechanics)


a)      Body Mechanic (mekanika tubuh) adalah suatu usaha mengoordinasikan sistem muskuloskeletal dan sistem saraf dalam mempertahankan keseimbangan, postur dan kesejajaran tubuh selama mengangkat, membungkuk, bergerak dan melakukan aktivitas. Penggunaan mekanika tubuh yang tepat dapat mengurangi risiko cedera sistem muskuloskeletal. Mekanika tepat juga memfasilitasi pergerakan tubuh yang memungkinkan mobilisasi fisik tanpa terjadi ketegangan otot dan penggunaan energi otot yang berlebihan.

Hal – hal tersebut mencakup:

1.      Kesejajaran tubuh (Body Alignment)

Kesejajaran tubuh dan pustur merupakan istilah yang sama dan mengacu pada posisi sendi, tendon, ligamen dan otot selama berdiri, duduk dan berbaring. Kesejajaran tubuh yang benar mengurangi ketegangan pada struktur muskuloskeletal, mempertahankan tonus (ketegangan) otot secara kuat dan menunjang keseimbangan.

2.      Keseimbangan tubuh

Kesejajaran tubuh menunjang keseimbangan tubuh. Tanpa keseimbangan ini, gravitasi akan berubah, meningkatkan gaya gravitasi, sehingga menyebabkan risiko jatuh dan cedera. Keseimbangan tubuh diperoleh jika dasar penopang luas, pusat gravitasi berada pada dasar penopang, dan garis vertikal dapat ditarik dari pusat gravitasi ke dasar penopang. Keseimbangan tubuh dapat juga ditingkatkan dengan postur dan merendahkan pusat gravitasi, yang dicapai dengan posisi jongkok. Semakin sejajar postur tubuh, semakin besar keseimbangannya (Perry dan Potter, 1994). Keseimbangan dibutuhkan untuk mempertahankan posisi, memperoleh kestabilan selama bergerak dari satu posisi ke posisi lain, melakukan aktivitas sehari-hari, dan bergerak bebas di komunitas.

Kemampuan untuk mencapai keseimbangan dipengaruhi oleh penyakit, gaya berjalan yang tidak stabil pada toddler, kehamilan, medikasi dan proses menua. Gangguan pada kemampuan ini merupakan ancaman untuk keselamatan fisik dan dapat menyebabkan ketakutan terhadap keselamatan seseorang dengan membatasi diri dalam beraktivitas (Bergetal, 1992)

3.      Koordinasi Gerakan

Berat adalah gaya tubuh yang digunakan terhadap gravitasi. Ketika suatu obyek diangkat, pengangkat harus menguasai berat obyek dan mengetahui pusat gravitasinya. Karena manusia tidak mempunyai bentuk geometris yang sempurna, maka pusat gravitasinya biasanya berada pada 55% sampai 57% tinggi badannya ketika berdiri dan berada ditengah.

Friksi adalah gaya yang muncul dengan arah gerakan yang berlawanan dengan arah gerakan benda. Misalnya menggerakkan klien diatas tempat tidur maka akan terjadi friksi. Perawat dapat mengurangi friksi dengan mengikuti beberapa prinsip dasar. Semakin besar area permukaan suatu obyek yang bergerak, semakin besar friksi.

Klein pasif atau immobilisasi akan menghasilkan friksi yang lebih besar untuk bergerak. Friksi dapat juga dikurangi dengan mengangkat, bukan mendorong klien. Mengangkat merupakan komponen gerakan keatas dan mengurangi tekanan antara klien dan tempat tidur atau kursi.

b)      Prinsip Body Mechanic

Mekanika tubuh penting bagi perawat dan klien. Hal ini mempengaruhi tingkat kesehatan mereka. Mekanika tubuh yang benar diperlukan untuk mendukung tingkat kesehatan dan mencegah kecacatan serta untuk menjaga keselamatan klien. Disamping itu, mekanika tubuh juga bertujuan untuk, menghibur pasien yaitu dengan meningkatkan kenyamanan dan kerjasama. Dalam hal ini, perawat menggunakan berbagai kelompok otot untuk setiap aktivitas keperawatan, seperti berjalan selama ronde keperawatan, memberikan obat, mengangkat dan memindahkan klien dan menggerakkan objek. Gaya fisik dari berat dan friksi dapat mempengaruhi pergerakan tubuh. Jika digunakan dengan benar, kekuatan ini dapat meningkatkan efisiensi perawat. Penggunaan yang tidak benar dapat mengganggu kemampuan perawat untuk mengangkat, memindahkan, dan mengubah posisi klien (Owen dan Garg, 1991) Perawat juga menggabungkan pengetahuan tentang pengaruh fisiologis dan patologis pada mobilisasi dan kesejajaran tubuh.

 

Organ yang Terkait dengan Body Mechanics dan Body Alignment

1.      Mekanika tubuh adalah usaha untuk mengkoordinasi sistem muskuloskeletal dan saraf sehingga individu bergerak, mengangkat, membungkuk, berdiri, duduk, berbaring, dan melakukan aktivitas sehari-hari dengan sempurna.

2.      Koordinasi gerakan tubuh membutuhkan integrasi fungsi sistem skeletal, otot skelet, dan sistem saraf.

a.       Skelet

Mendukung struktur penyokong tulang untuk bergerak, menghubungkan ligament dan otot, melindungi organ penting, mengatur produk kalsium dan sel darah merah.

b.      Sistem saraf

Mendukung gerakan awal dan control gerakan volunter

 

3.      Organ yang terkait

Otak yang bekerja sama dengan telinga. Didalam telinga terdapat koklea yang berfungsi untuk menjaga keseimbangan tubuh.

Keseimbangan:

Pada telinga, nervus yang terbesar dalam kanalis semisirkularis menghantarkan impuls-impuls menuju otak. Impuls-impuls ini dibangkitkan dalam kanal-kanal, karena adanya perubahan kedudukan cairan dalam kanal atau saluran-saluran itu. Hal ini mempunyai hubungan erat dengan kesadaran kedudukan kepala terhadap badan. Apabila seseorang didorong ke salah satu sisi maka kepalanya cenderung miring ke arah lain (berlawanan dengan arah badan yang didorong) guna mempertahankan keseimbangan, berat badan diatur, posisi badan dipertahankan sehingga jatuhnya badan dapat dipertahankan.

Perubahan kedudukan cairan dalam saluran semisirkuler inilah yang merangsang impuls. Respons badan berupa gerak refleks, guna memindahkan berat badan serta mempertahankan keseimbangan. Untuk mempertahankan posisi tertentu, gaya grafitasi harus dilawan melalui mekanisme sensori organ proprioseptif. Aparatus vestibuli mendeteksi perubahan sinyal untuk mengaktifkan respons motor adaptif dalam mempertahankan keseimbangan.

Iklan

Index Katz


Index katz adalah pemeriksaan disimpulkan dengan system penilaian yang didasarkan pada tingkat bantuan orang lain dalam melakukan aktifitas fungsionalnya. Salah satu keuntungan dari alat ini adalah kemampuan untuk mengukur perubahan fungsi aktivitas dan latihan setiap waktu, yang diakhiri evaluasi dan aktivitas rehabilisasi.

Pengukuran pada kondisi ini meliputi Indeks Katz

1 Mandi Dapat mengerjakan sendiri Sebagaian/pada bagian tertentu dibantu Sebagian besar/ seluruhnya dibantu
2 Berpakaian Seluruhnya tanpa bantuan Sebagian/ pada bagian tertentu dibantu Seluruhnya dengan bantuan
3 Pergi ke toilet Dapat mengerjakan sendiri Memerlukan bantuan Tidak dapat pergi ke WC
4 Berpindah (berjalan) Tanpa bantuan Dengan bantuan Tidak dapat melakukan
5 BAB dan BAK Dapat mengontrol Kadang-kadang ngompol / defekasi di tempat tidur Dibantu seluruhnya
6 Makan Tanpa bantuan Dapat makan sendiri kecuali hal-hal tertentu Seluruhnya dibantu

Klasifikasi:

A : Mandiri, untuk 6 fungsi

B : Mandiri, untuk 5 fungsi

C : Mandiri, kecuali untuk mandi dan 1 fungsi lain.

D : Mandiri, kecuali untuk mandi, bepakaian dan 1 fungsi lain

E : Mandiri, kecuali untuk mandi, bepakaian, pergi ke toilet dan 1 fungsi lain

F : Mandiri, kecuali untuk mandi, bepakaian, pergi ke toilet dan 1 fungsi lain

G : Tergantung untuk 6 fungsi.

Keterangan:

Mandiri: berarti tanpa pengawasan, pengarahan, atau bantuan aktif dari orang lain. Seseorang yang menolak melakukan suatu fungsi dianggap tidak melakukan fungsi, meskipun dianggap mampu.

Pengkajian Kebutuhan Aktivitas dan Latihan


1. Riwayat Kesehatan

Pengkajian terkait aktivitas klien meliputi riwayat aktivitas dan olahraga yang mencakup tingkat aktivitas, toleransi aktivitas, jenis dan frekuensi olahraga, faktor yang mempengaruhi mobilitas serta pengaruh imobilitas.

.

2. Pemeriksaan Fisik

Pemeriksaan fisik berfokus pada aktivitas dan olahraga yang menonjolkan kesejajaran tubuh, cara berjalan, penampilan dan pergerakan sendi, kemampuan dan keterbatasan gerak, kekuatan dan massa otot, serta toleransi aktivitas.

  • Kesejajaran tubuh. Tujuan pemeriksaan kesejajaran tubuh adalah untuk mengidentifikasi perubahan postur akibat pertumbuhan dan perkembangan normal, hal-hal yang perlu dipelajari untuk mempertahankan postur tubuh yang baik, faktor-faktor yang menyebabkan postur tubuh yang buruk (misalkan kelelahan dan harga diri rendah), serta kelemahan otot dan kerusakan motorik lainnya. Pemeriksaan ini dilakukan dengan menginspeksi pasien dari sisi lateral, anterior, dan posterior guna mengamati apakah:

–       Bahu dan pinggul sejajar

–       Jari-jari kaki mengarah ke depan

–       Tulang belakang lurus, tidak melengkung ke sisi yang lain

  • Cara berjalan. Pengkajian cara berjalan dilakukan untuk mengidentifikasi mobilitas klien dan risiko cedera akibat jatuh. Hal ini dilakukan dengan meminta klien berjalan sejauh kurang lebih 10 kaki di dalam ruangan, kemudian amati hal-hal berikut :

–       Kepala tegak, pandangan lurus, dan tulang belakang lurus

–       Tumit menyentuh tanah lebih dahulu daripada jari kaki

–       Kaki dorsofleksi pada fase ayunan

–       Lengan mengayun ke depan bersamaan dengan ayunan kaki di sisi yang berlawanan

–       Gaya berjalan halus, terkoordinasi, dan berirama; ayunan tubuh dari sisi ke sisi minimal dan tubuh ke depan, dan gerakan dimulai dan diakhiri dengan santai.

–       Kecepatan berjalan (normalnya 70-100 langkah per menit)

  • Penampilan dan pergerakan sendi. Pemeriksaan ini meliputi inspeksi, palpasi, serta pengkajian rentang gerak aktif atau rentang gerak pasif. Hal-hal yang perlu dikaji antara lain :

–            Adanya kemerahan atau pembengkakan sendi

–            Adanya deformitas

–            Perkembangan otot yang terkait dengan masing-masing sendi

–            Adanya nyeri tekan

–            Krepitasi

–            Peningkatan temperatur di sekitar sendi

–            Derajat gerak sendi

  • Kemampuan dan keterbatasan gerak. Pengkajian ini bertujuan untuk mendapatkan data tentang adanya indikasi rintangan dan keterbatasan pada pergerakan klien dan kebutuhan untuk memperoleh bantuan. Hal-hal yang perlu dikaji antara lain:

–       Bagaimana penyakit klien mempengaruhi kemampuan klien untuk bergerak.

–       Adanya hambatan dalam bergerak (misalnya terpasang selang infuys atau gips yang berat)

–       Kewaspadaan mental dan kemampuan klien untuk mengikuti petunjuk

–       Keseimbangan dan koordinasi klien.

–       Adanya hipotensi ortostatik sebelum berpindah tempat

–       Derajat kenyamanan klien

–       Penglihatan

  • Kekuatan dan massa otot. Sebelum membantu klien mengubah posisi atau berpindah tempat, perawat harus mengkaji kekuatan dan kemampuan klien untuk bergerak. Langkah ini di ambil utnuk menurunkan risiko tegang otot dan cedera tubuh, baik bagi klien maupun perawat.
  • Toleransi aktivitas. Pengkajian ini bermanfaat untuk membantu meningkatakan kemandirian klien yang mengalami :

–          Disabilitas kardiovaskular dan respiratorik

–          Imobilisasi komplet dalam waktu yang lama

–          Penurunan massa otot atau gangguan muskuloskeletal

–          Tidur yang tidak mencukupi

–          Nyeri

–          Depresi,cemas, atau tidak termotivasi.

Alat ukur yang paling bermanfaat untuk meperkirakan toleransi klien terhadap aktivitas adalah frekuensi, kekuatan, dan iramama denyut jantung; frekuensi, kedalaman, dan irama pernapasan serta tekanan darah.

  • Masalah terkait mobilitas. Pengkajian ini dilakukan melalui metode inspeksi, palpasi, dan auskultasi; pemeriksaan hasil tes laboratorium; serta pengukuran berat badan, asupan cairan, dan haluaran cairan. Pemeriksaan ini sebaiknya dilakukan segera setelah klien mengalalmi imobilisasi. Data yang diperoleh tersebut kemudian menjadi standar yang akan dibandingkan dengan data selama periode imobilisasi.

Lengkung Refleks (Reflex Arc) dan Gerak Refleks


A. Lengkung Refleks (Reflex Arc)

Lengkung refleks merupakan jalur yang dilalui proses reflex/ gerak refleks.

Rangsangan yang ditimbulkan oleh perubahan lingkungan di dalam maupun di luar tubuh akan menimbulkan rrespon yang berwujud sebagai perilaku manusia. Reaksi tubuh terhadap suatu ransangan yang melibatkan sistem saraf disebut reflex. Peristiwa reflex terbentuk melelui mekanisme yang melalui jalur tertentu. Jalur reflex tersebut bila dibuat gambar bagan urutan peristiwa yang terjadi di reseptor, saraf eferen, medulla spinalis sebagai saraf pusat, saraf eferen dan fektor akan terlihat sebagai jalur yang melengkung. Dengan demikian jalur yang dilalui proses reflex sering disebut Lengkung Refleks (Reflex Arc).

B. Tejadinya Gerak Refleks

Gerak refleks adalah gerak yang dihasilkan oleh jalur saraf yang paling sederhana. Jalur saraf ini dibentuk oleh sekuen neuron sensor,interneuron,dan neuron motor,yang mngalirkan impuls saraf untuk tipe reflek tertentu. Gerak refleks yang paling sederhana hanya memerlukan dua tipe sel saraf yaitu neuron sensor dan neuron motor.

Gerak refleks disebabkan oleh rangsangan tertentu yang biasanya mengejutkan dan menyakitkan. Misalnya bila kaki menginjak paku, secara otomatis kita akan menarik kaki dan akan berteriak. Refleks juga terjadi ketika kita membaui makanan enak, dengan keluarnya air liur tanpa disadari.  Pada gerak refleks, impuls melalui jalan pendek atau jalan pintas, yaitu dimulai dari reseptor penerima rangsang, kemudian diteruskan oleh saraf sensori ke pusat saraf, diterima oleh set saraf penghubung (asosiasi) tanpa diolah di dalam otak langsung dikirim tanggapan ke saraf motor untuk disampaikan ke efektor, yaitu otot atau kelenjar. Jalan pintas ini disebut   lengkung refleks. Gerak refleks dapat dibedakan atas refleks otak bila saraf penghubung (asosiasi) berada di dalam otak, misalnya, gerak mengedip atau mempersempit pupil bila ada sinar dan refleks sumsum tulang belakang bila set saraf penghubung berada di dalam sumsum tulang belakang misalnya refleks pada lutut.

Jenis Gerakan Pada Sendi


a)      Bergeser

Berupa pergeseran antara tulang, contohnya gerakan pada sendi-sendi di antara tulang-tulang carpalia dan tarsalia, terjadi pada sendi geser.

b)      Extensi

Berupa gerakan pelurusan sendi. Extensi bisa terjadi pada sendi engsel, contohnya extensi sendi lutut

c)      Flexi

Berupa gerakan pembengkokan sendi. Flexi terjadi pada sendi engsel, contohnya flexi sendi jari-jari. Sedangkan flexi-extensi pada pergelangan tangan merupakan gerakan sendi ellipsoidal

d)     Abduksi

Berupa gerakan yang menjauhi sumbu tubuh. Terjadi pada sendi peluru, contohnya mengangkat lengan ke samping, atau gerakan ibu jari menjauhi telunjuk oleh sendi pelana di antara metacarpal 1 dan os. Carpal (trapezium)

e)      Adduksi

Berupa gerakan yang mendekati sumbu tubuh, gerakan ini berlawanan dengan gerakan abduksi

f)       Rotasi

Berupa gerakan berputar, terjadi pada sendi putar. Misalnya atlas (cervix 1) berputar terhadap processus odontoideus dari axis (cervix 2) sewaktu menggelengkan kepala.

g)      Circumduksi

Berupa gerakan dimana ujung distal satu tulang membentuk 1 lingkaran, sedangkan ujung proksimalnya tetap. Contohnya gerakan memutar lengan 1 lingkaran mengitari sendi bahu, terjadi pada sendi peluru dengan arah gerakan 3 poros

h)      Pronasi

Gerakan memutar lengan bawah untuk membalikkan telapak tangan, sehingga telapak tangan menghadap ke bawah bila lengan bawah ditaru diatas meja

i)        Supinasi

Gerakan berlawanan dengan pronasi

j)        Protaksi

Gerakan mendorong mendibula ke luar

k)      Retraksi

Gerakan menarik mandibula ke dalam

Jenis Persambungan Tulang/ Sendi


A. Sendi Utama

sendi utama terdiri dari sendi fibrus, sendi tulang rawan,dan sendi sinovial.

ü  Sendi fibrus atau sinartrosis, ialah sendi yang tidak dapat bergerak, misalnya persambungan tulang bergigi (sutura) yang terdapat pada kepala sela antara tulang pipih yang menyatukan os frontal, os parietal, os temporal, dan os etmoidal. Selain itu, sendi tibia dan fibula inferior merupakan contoh lainnya dari sinartrosis.

ü  Sendi tulang rawan (amfiartrosis) ialah sendi dengan gerakan sedikit, permukaan dipisahkan oleh bahan antara yang memungkinkan sedikit gerakan. Misalnya sendi simfisis pubis, sendi manubrium stemi dan korpus sterni.

ü  Sendi sinovial (diartrosis), persendian yang bergerak bebas dan terdapat banyak ragamnya dan semua mempunyai ciri yang sama. Sendi sinovial terdiri dari :

  1. Sendi putar, bongkol sendi tepat masuk dalam mangkok sendi yang dapat memberikan seluruh arah, misalnya sendi panggul dan sendi peluru yang terdapat di bahu.
  2. Sendi engsel, satu permukaan bundar diterima oleh yang lain sedemikian rupa sehingga gerakan hanya dalam satu bidang dan dua arah, misalnya sendi siku dan sendi lutut.
  3. Sendi kondiloid, seperti sendi engsel tetapi dapat bergerak dalam 2 bidang dan 4 arah, lteral, ke depan dan ke belakang (fleksi, ekstensi, abduksi, dan adduksi). Misalnya pergelangan kaki dan pergelangan tangan.
  4. Sendi berporos atau sendi putar, pergerakan sendi memutar seperti pergerakan kepala sendi. Misalnya pronasi (ulna dan radius sejajar) dan supinasi (ulna dan radius menyilang).
  5. Sendi pelana dan sendi timbal balik. Misalnya sendi rahang dan tulang metakarpia pertama (pergelangan tangan) yang dapat memberikan kebebasan untuk bergerak, misalnya ibu jari dapat berhadapan dengan jari lainnya.

B. Sendi anggota gerak atas, terdiri dari :

ü  Sendi sternoklavikular, Sendi ini adalah hubungan antara gelang bahu batang badan, antara pars sternalis klavikula manubrium streni rawan iga I, sebelah atas berhubungan dengan klavikula dan sebelah bawah dengan sternum.

ü  Sendi akromioklavikular, Sendi ini merupakan hubungan antara ekstremitas akromialis dan klavikula.

ü  Sendi humero skapular, Persendian ini merupakan sendi peluru karena kaput humeri merupakan sebuah bola yang melekat pada bagian dalam bidang skapula dengan kaput humeri.

ü  Sendi humero radial, Sendi antara capitulum humeri fovea capitulum radii

ü  Sendi radio ulnari proksimal, Sendi antara sirkumferensia artikularis radii dan insisura radialis ulna

C. Sendi Tangan dan Jari Tangan

ü  Sendi karpalia

ü  Sendi karpo metakarpalia, memiliki 2 bagian :

  1. Art Carpometacarpae I (pollicis), hubungan antara os metacarpal I dan os multangulum manus merupakan sendi pelana simpai sendi sangat longgar sehingga pergerakan lebih luas.
  2. Articulationes carpometacarpae II-V, sendi antara oscacarpalia

ü  Sendi metakarpofalangeal, Merupakan sendi anatara ossis metakarpalia, kepala sendi dengan basis ossis phalanx I merupakan lekuk sendi

ü  Sendi interfalangeal

Sendi Panggul, Sendi pinggul adalah sendi sinovial dari varietas sendi putar. Kepala sendi femur ke dalam asetabulum tulang koksa. Sendi ini tebal dan kuat, membatasi gerakan sendi ke seluruh arah, dan membentuk sikap tegak tubuh dalam keadaan berdiri, gerakan sendi fleksi, ekstensi, abduksi, endorotasi, dan eksorotasi.

Sendi lutut, Sendi lutut adalah sendi engsel yang dibentuk oleh kondilus femoralis yang bersendi dengan permukaan dari kondilus tibia. Patela terletak di atas permukaan yang halus pada femur, tetapi tidak termasuk dalam sendi lutut.

Sendi tibio fibular, Persendian ini merupakan persendian antara tibia dan fibula

Sendi pergelangan kaki

  • Fleksi dan plantar flaksi
  • Diperkuat oleh ligamentum deltoid

Sendi telapak kaki

  • Abduksi
  • Adduksi

Proses Penyembuhan dan Pertumbuhan Tulang, Komposisi Tulang


A. PROSES PENYEMBUHAN TULANG

Tahapan penyembuhan tulang terdiri dari: inflamasi, proliferasi sel, pembentukan kalus, penulangan kalus (osifikasi), dan remodeling.

Tahap Inflamasi. Tahap inflamasi berlangsung beberapa hari dan hilang dengan berkurangnya pembengkakan dan nyeri. Terjadi perdarahan dalam jaringan yang cidera dan pembentukan hematoma di tempat patah tulang. Ujung fragmen tulang mengalami devitalisasi karena terputusnya pasokan darah. Tempat cidera kemudian akan diinvasi oleh magrofag (sel darah putih besar), yang akan membersihkan daerah tersebut. Terjadi inflamasi, pembengkakan dan nyeri.

Tahap Proliferasi Sel. Kira-kira 5 hari hematom akan mengalami organisasi, terbentuk benang-benang fibrin dalam jendalan darah, membentuk jaringan untuk revaskularisasi, dan invasi fibroblast dan osteoblast. Fibroblast dan osteoblast (berkembang dari osteosit, sel endotel, dan sel periosteum) akan menghasilkan kolagen dan proteoglikan sebagai matriks kolagen pada patahan tulang. Terbentuk jaringan ikat fibrus dan tulang rawan (osteoid). Dari periosteum, tampak pertumbuhan melingkar. Kalus tulang rawan tersebut dirangsang oleh gerakan mikro minimal pada tempat patah tulang. Tetapi gerakan yang berlebihan akan merusak sruktur kalus. Tulang yang sedang aktif tumbuh menunjukkan potensial elektronegatif.

Tahap Pembentukan Kalus. Pertumbuhan jaringan berlanjut dan lingkaran tulang rawan tumbuh mencapai sisi lain sampai celah  sudah terhubungkan. Fragmen patahan tulang digabungkan dengan jaringan fibrus, tulang rawan, dan tulang serat matur. Bentuk kalus dan volume dibutuhkan untuk menghubungkan defek secara langsung berhubungan dengan jumlah kerusakan dan pergeseran tulang. Perlu waktu tiga sampai empat minggu agar fragmen tulang tergabung dalam tulang rawan atau jaringan fibrus. Secara klinis fargmen tulang tidak bisa lagi digerakkan.

Tahap Penulangan Kalus (Osifikasi). Pembentukan kalus mulai mengalami penulangan dalam dua sampai tiga minggu  patah tulang, melalui proses penulangan endokondral. Patah tulang panjang orang dewasa normal, penulangan memerlukan waktu tiga sampai empat bulan. Mineral terus menerus ditimbun sampai tulang benar-benar telah bersatu dengan keras. Permukaan kalus tetap bersifat elektronegatif.

Tahap Menjadi Tulang Dewasa (Remodeling).  Tahap akhir perbaikan patah tulang meliputi pengambilan jaringan mati dan reorganisasi tulang baru ke susunan struktural sebelumnya. Remodeling memerlukan waktu berbulan-bulan sampai bertahun – tahun tergantung beratnya modifikasi tulang yang dibutuhkan, fungsi tulang, dan pada kasus yang melibatkan tulang kompak dan kanselus – stres fungsional pada tulang. Tulang kanselus mengalami penyembuhan dan remodeling lebih cepat daripada tulang kortikal kompak, khususnya pada titik kontak langsung.

Selama pertumbuhan memanjang tulang, maka daerah metafisis mengalami remodeling (pembentukan) dan pada saat yang bersamaan epifisis menjauhi batang tulang secara progresif. Remodeling tulang terjadi sebagai hasil proses antara deposisi dan resorpsi osteoblastik tulang secara bersamaan. Proses remodeling tulang berlangsung sepanjang hidup, dimana pada anak-anak dalam masa pertumbuhan terjadi keseimbangan (balance) yang positif, sedangkan pada orang dewasa terjadi keseimbangan yang negative. Remodeling juga terjadi setelah penyembuhan suatu fraktur. (Rasjad. C, 1998)

B. PROSES PERTUMBUHAN TULANG

Pembentukan tulang manusia dimulai pada saat masih janin dan umumnya akan bertumbuh dan berkembang terus sampai umur 30 sampai 35 tahun. Berikut adalah gambaran pembentukan tulang

Dari grafik massa tulang mulai bertumbuh sejak usia 0. Sampai usia 30 atau 35 tahun (tergantung individual) pertumbuhan tulang berhenti, dan tercapai puncak massa tulang. Puncak massa tulang belum tentu bagus, tapi diumur itulah tercapai puncak massa tulang manusia.

Bila dari awal proses pertumbuhan, asupan kalsium selalu terjaga, maka tercapailah puncak massa tulang yang maksimal, tapi bila dari awal pertumbuhan tidak terjaga asupan kalsium serta giji yang seimbang, maka puncak massa tulang tidak maksimal.

Pada usia 0 – 30/35 tahun, disebut modeling tulang karena pada masa ini tercipta atau terbentuk MODEL tulang seseorang. Sehingga lain orang, lain pula bentuk tulangnya. Pada usia 30 – 35 tahun, pertumbuhan tulang sudah selesai, disebut remodeling dimana modeling sudah selesai tinggal proses pergantian tulang yang sudah tua diganti dengan tulang yang baru yang masih muda. Secara alami setelah pembentukan tulang selesai, maka akan terjadi penurunan massa tulang. Hal ini bisa dicegah dengan menjaga asupan kalsium setelah tercapainya puncak massa tulang. Dengan assupan kalsium 800 – 1200 mg perhari, puncak massa tulang ini bisa dipertahankan. Di pasaran sudah beredar asupan kalsium dan vit.D3 yang dilengkapi EPO mengandung kalsium 400 mg, Vit D3 50 iu dan EPO 400 mg, dengan mengkonsumsi produk tersebut 2 x sehari, bisa mempertahankan puncak massa tulang.

Tujuan untuk mempertahankan puncak massa tulang adalah :

Untuk mencegah penurunan massa tulang, dimana penurunan massa tulang ini akan mengakibatkan berkurangnya kepadatan tulang, dan tulang akan mengalami osteoporosis.
Osteoporosis lebih baik dicegah dengan cara asupan kalsium yang cukup setelah usia 30 atau 35 tahun.

Kesimpulan :

Dalam proses pembentukan tulang, tulang mengalami regenerasi yaitu pergantian tulang-tulang yang sudah tua diganti dengan tulang yang baru yang masih muda, proses ini berjalan seimbang sehingga terbentuk puncak massa tulang. Setelah terbentuk puncak massa tulang, tulang masih mengalami pergantian tulang yang sudah tua dengan tulang yamg masih muda, tapi proses ini tidak berjalan seimbang dimana tulang yang diserap untuk diganti lebih banyak dari tulang yang akan menggantikan, maka terjadi penurunan massa tulang, dan bila keadaan ini berjalan terus menerus, akan terjadi osteoporosis

C. KOMPOSISI TULANG

Tulang terdiri dari 2 bahan:

  1. Matrik yang kaya mineral (70%) = Bone (Tulang yang sudah matang)
  2. Bahan-bahan organik (30%) yang terdiri dari:
  • Sel (2%) : 1) Sel Osteoblast : yang membuat matrik (bahan) tulang / sel pembentuk tulang.  2) Sel Osteocyte : mempertahankan matrik tulang. 3) Sel Osteoclast : yang menyerap osteoid (95%) (resorbsi) bahan tulang (matrik) / sel yang menyerap tulang.
  • Osteoid (98%) : Matrik (bahan) tulang yang mengandung sedikit mineral (osteoid=tulang muda)

Previous Older Entries