Eat, Pray, Love-Makan, Doa, Cinta


Judul Buku: Eat, Pray, Love

Penulis: Elizabeth Gilbert

Penerbit : Abdi Tandur

Saya baru saja menyelesaikan membaca buku ini. Buku ini mengisahkan pengalaman perjalanan dari penulis sendiri yang berasal dari New York dengan latar belakang penulis buku dan majalah. Buku ini dibagi menjadi tiga bagian, masing-masing berdasarkan negara yang dikunjungi, Liz-panggilan akrab Elizabeth dalam buku ini, mengadakan pejalanan ke tiga negara yaitu Italia, India, dan Indonesia. Dalam buku ini mengungkapkan sejarah singkat dari terbentuknya negara tersebut dan budaya-budaya yang dianut masyarakat setempat.

Italia. Berawal dari keinginan untuk belajar bahasa ini sampai menemukan tempat-tempat makan yang enak di sekitar kota Itali (EAT). Digambarkan juga keindahan kota Itali dengan patung-patung dan air mancur yang ada di sana. Pada bagian ini, terus terang saya kurang mengerti karena beberapa bagian cerita terkesan “meloncat-loncat” sehingga membuat bingung, namun terdapat segi kocak dalam percakapannya-khususnya dengan Luca saat mereka makan ‘usus’ (Hei, tidak cuma di Itali, di Indonesia pun banyak yang seperti itu!).

India. Ketenangan, kedamaian, dan spiritualitas mungkin ini yang menjadi inti dari perjalanan ke negara ini. Pelepasan beban pikiran, perasaan, goncangan, ketakutan dan bayang-bayang masa lalu. Di sini penulis belajar dari seorang guru mengenai pengenalan akan Tuhan-spiritualitas (PRAY) melalui Yoga. Ada yang menarik perhatian saya dalam seri ini:

‘Ego tidak melayanimu. Tugas ego bukan untuk malayanimu. Tugasnya hanyalah tetap memiliki kekuasaan. Dan sekarang ini, egomu sangat ketakutan karena kekuasaannya akan diperkecil. Teruskan dengan jalan spirituil ini sayang, dan hari-hari dari anak nakal itu (ego) hanya tinggal menunggu hitungan waktu. Tidak lama lagi egomu tidak akan bekerja lagi, dan hatimu akan mulai membuat keputusan. Jadi egomu berjuang untuk hidupnya, bermain dengan jiwamu, mencoba untuk menegaskan kekuasaannya, mencoba untuk mengatur hidupmu dan menjauhkan kamu dari yang lain. Jangan dengarkan egomu.’

Seperti hal ini kau tidak bisa menyuruh diam hatimu, tapi bisa menenangkannya. Caranya? Cinta dari Tuhan.

Indonesia. Bukan Indonesia secara keseluruhan, tapi salah satu Pulaunya. Bali. Em, mungkin juga Pulau Gili Meno (di ujung Pantai Lombok) bisa di masukkan di sini. Pada bagian ini pengarang ingin memberi tahu mengenai keseimbangan. Menyeimbangkan apa yang telah di dapatkan di Itali dan India, keduanya bertolak belakang seperti dunia dan surga-kalau bisa dikatakan seperti itu. Akhirnya di Bali penulis menemukan cintanya (LOVE).

Buku ini telah dibuat menjadi suatu film dengan judul yang sama Eat Pray Love dibintangi oleh Julia Roberts.

Kesimpulan dari saya adalah menemukan makna dari keseimbangan hidup bisa kita capai karena hidup itu anugrah dan dijalankan dengan sebaik yang kita bisa lakukan. Kita hanya perlu untuk bertahan dan mencari jalan keluar. Bila tidak bisa seorang diri, carilah bantuan, dari orang yang tepat.

3 Komentar (+add yours?)

  1. uchiwani_joon_peverell
    Apr 21, 2011 @ 13:03:05

    keren boleh kan saya jadikan referensi skripsi saya :))

    Balas

  2. macind
    Jan 07, 2011 @ 01:05:48

    asti kapan bisa minjem bukunya hehehee..🙂

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: